TETANGGA

TETANGGA

  • 26 April 2018, 15:06
  • mysuper


Ustadz Dr. Ahmad Djalaluddin, Lc. MA.

“Jibril senantiasa mewasiatkanku untuk berbuat baik terhadap tetangga sehingga aku mengira tetangga juga akan mendapatkan harta waris”. (HR. Al Bukhari)
Kita butuh tetangga.
Pertama,karena tetangga menjadi lahan untuk aktualisasi iman. Kata Rasulullah, iman bukan sekadar keyakinan. Tapi, iman juga memiliki indikator sosial, “Barangsiapa beriman kepada Allah –ta`ala- dan hari akhir hendaknya memuliakan tetangga”. (HR. Al Bukhari dan Muslim).

Dalam Al Adabu al Mufrad disebutkan riwayat dengan redaksi fal yuhsin jaarahu, hendaknya berbuat ihsan kepada tetangga. Ihsan bermakna melakukan kebaikan lebih dari yang diwajibkan. Lebih dari ma`ruf. :bangbang:

Kedua, karena manusia itu makhluk sosial yang tidak mungkin hidup sendiri. Kita membutuhkan orang lain. Nabi Ibrahim -`alaihi al salam- yang meninggalkan istri dan anaknya di padang pasir memohon kepada Allah agar ada yang menyenangi keluarganya. Agar ada yang datang ke Mekkah (QS. Ibrahim: 37)

Ketiga, karena kita membutuhkan lingkungan yang baik bagi tumbuh-kembang anak-anak. Manusia itu ibnu bi`atihi, anak dari lingkungannya. Jadi kita membutuhkan lingkungan, tetangga yang baik yang turut serta menjaga masa depan anak kita.

Kita membutuhkan tetangga yang baik, tapi Rasulullah menjelaskan bahwa Jibril -`alaihi al salam- memerintah Nabi untuk berbuat baik kepada tetangga. Tidak dibalik: Jibril memerintah tetangga untuk berbuat baik kepada Nabi. Artinya, sebagai ummat Muhammad –shallallahu `alaihi- wasallam- kita diperintah untuk berbuat baik kepada tetangga, bukan tetangga yang diperintah berbuat baik kepada kita.

Ada beberapa kebaikan yang bisa dilakukan terhadap tetangga, sebagai aktualisasi iman, sebagai bagian makhluk sosial yang menginginkan lingkungan yang baik bagi masa depan anak, diantaranya:

Menjawab salam dan memenuhi undangan, sebagai kewajiban umum kepada sesama muslim.

Tidak menyakiti tentangga, baik dengan lisan atau tangan. Karena Rasulullah bersabda bahwa orang mukmin itu ditandai oleh kondisi tetangga yang tak tersakiti olehnya (HR. Al Bukhari)

Sabar dengan keburukannya. Ada seseorang yang curhat kepada Ibnu Mas`ud –radliyallahu  anhu- tentang keburukan tetangganya yang sering menyakitinya. Sahabat Nabi itu berkata, “Jika tetanggamu maksiat kepada Allah dengan menyakiti dirimu, maka taatlah kepada Allah dengan cara berbuat baik kepada tetanggamu. 

Membantu pemenuhan kebutuhan. Dalam hadits yang shahih, Rasulullah mengingatkan para ibu,  Janganlah meremehkan kebaikan meskipun hanya sekerat tulang kambing dengan sedikit daging. 

Menutupi aib dan kekurangannya, serta menjaga kehormatan tetangga. Di antara orang shalih ada yang biasa berdoa, Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari tetangga yang buruk yang bila ia melihat kekuranganku, ia menyebarkannya, dan bila ia melihat kebaikanku maka ia menutupinya.”

Mengingatkan dan menasihati bila melakukan kesalahan, serta siap menerima nasihat bila melakukan kesalahan.

Wallahu a`lam bisshawab


Kirim Komentar