Menikmati Proses

Menikmati Proses

  • 26 April 2018, 14:59
  • mysuper

Masih baru lepas subuh, matahari juga belum mengeluarkan sinar cantiknya namun suasana bandara pagi ini sudah cukup ramai. Hilir mudik orang-orang dengan travel bag menjadi pemandangan yang mudah ditemui. Ada yang masih berjalan santai, ada yang sudah terburu-buru sambil beberapa kali melihat jam di tangannya, bahkan ada yang sudah setengah berlari dengan wajah khawatir dan panik. Masya Allah, aktivitas sibuk sepagi ini. Mungkin ini hanya pemandangan di satu titik. Di titik yang lain di belahan bumi ini mungkin gambarannya bermacam-macam. Ada yang sudah ramai dengan aktivitas atau mungkin masih ada yang masih senyap dalam lelapnya.

Kemampuan manusia dalam melakukan aktivitasnya masing-masing tentu bukan muncul begitu saja. Semuanya melalui proses. Memangnya adakah orang yang tahu-tahu bisa menulis, tahu-tahu bisa membaca, tahu-tahu jadi dokter atau guru? Kalau ada pasti sudah dicari-cari dan diminta seminar dimana-mana untuk memaparkan rahasianya, he..he.

Di dunia ini harus kita sadari bahwa sesuatu itu tidak ada yang terjadi dengan tidak berproses. Allah ciptakan manusia juga melalui proses dan tahapan,  dari segumpala darah hingga menjadi bentuk yang sempurna. Demikian juga dalam penciptaan langit dan bumi.  Lalu kenapa banyak orangtua yang tidak sabar dengan proses pengasuhan pada anak-anak? Usia belum genap 6 tahun sudah harus duduk di kursi Sekolah Dasar. Usia PAUD yang lagi asyik-asyiknya main bersama, latihan mewarna dengan krayon, mencetak bentuk dengan plastisin, belajar naik sepeda, ehh..kok disodori deretan huruf-huruf yang harus jadi kalimat dan deretan angka yang harus tahu jumlahnya. Fase bermainnya terpangkas dan berubah menjadi fase dituntut.

Sebetulnya siapa yang tidak sabar dalam proses belajar ini? Hayoo angkat tangannya dan tunjuk diri kita sendiri jika memang iya. Manusia memang memiliki independent will atau kebebasan berkehendak yaitu kemampuan manusia untuk bertindak. Tapi hendaknya tindakan yang diambil adalah yang ada dasarnya atau ada ilmunya dan bukan tindakan atas insiatif atau faktor emosi semata. Amal itu gandengannya harus ilmu bukan perasaan atau bahkan kalimat ‘katanya’ yang parahnya bila ditelusuri sudah tidak terlacak lagi itu katanya siapa, kapan mengucapkannya, dan pada situasi apa. Nah masak untuk menyiapkan masa depan anak, kita lakukan pengasuhan tanpa ilmu. Sayang kan karena waktu tidak dapat berjalan mundur.

Coba kita tengok bagaimana portofolio kehidupan Rasulullah. Merinding…Masya Allah. Beliau tidak bersama ayahnya sejak lahir dan bersama Ibunya juga tidak lama. Tapi orang-orang di sekeliling beliau adalah orang pilihan semua. Ibu susu dipilih dari Bani terbaik sehingga asi yang didapat juga asupan yang baik. Ada kakeknya seorang pembesar Quraisy yang tidak segan-segan mendudukan Muhammad kecil untuk duduk di kursi kebesarannya. Masa kecil Rasulullah kenyang dengan asupan tumbuh kembang yang harus didapat seorang anak di usia itu, sehingga lihatlah hasilnya usia 14 tahun sudah bisa ikut perang pertama. Perang dan ini perang sungguhan bukan perang dalam games di gadget seperti anak-anak jaman sekarang.Gambaran kematangan seorang anak di usia 14 tahun yang sudah teruji.

Sekali lagi yuuk jalani prosesnya. Agar anak-anak matang di usia balighnya, maka prosesnya harus dimulai sebelum ia baligh. Jangan dirusak dengan proses percepatan atau proses perlompatan yaitu menghilangkan proses yang harus dilalui dengan memasukkan proses selanjutnya di fase usia yang tidak seharusnya. Independent will dalam proses pengasuhan harus ditegakkan tujuannya agar tidak mengorbankan masa depan anak-anak kita.

Wallahu a’lam bishshowab


Kirim Komentar