Hidup Bahagia di Bawah Naungan Al-Quran

Hidup Bahagia di Bawah Naungan Al-Quran

  • 26 April 2018, 14:54
  • mysuper

Ust. Abu Haidar (Pengasuh Majelis Dhuha Malang)

Seharusnya, seluruh kaum muslimin bisa dekat dengan Al Qur’an, kitab suci-Nya yang merupakan mukjizat teragung bagi Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedekatan ini bukan hanya pada mempelajari makhorijul huruf dan membetulkan tata cara bacanya saja, akan tetapi lebih kepada kemampuan merasakan peristiwa dari ayat dan surat yang dibaca, mengalami secara riil dalam kehidupan ini. Kemudian kaum Muslimin mampu melaksanakan dengan baik apa yang ada dalam Al Qur’an. Dengan Al-Qur’an, In sya Allah, semua keinginan kita menjadi kenyataan. Al Qur’an akan dapat menjadikan keluarga kita sakinah, mawaddah wa rohmah.

Dalam kehidupan ini, ada dua kata yang paling banyak di cari yaitu sukses dan bahagia. Dua kata inilah barang paling mahal yang dicari oleh semua orang. Sebagai contoh, ada orang yang berfikir bahwa jabatan akan bisa menghasilkan kesuksesan dan kebahagiaan, maka ia sekuat tenaga untuk bisa mencapai jabatan tersebut. Dihalalkanlah semua cara, seperti menyuap, menggunakan bantuan paranormal, dan sebagainya.

Kita sebagai hamba Allah pun juga ingin sukses dan bahagia. Dan Allah Subhanahu wa ta’ala ternyata telah memberikan kuncinya, namun banyak orang yang tidak sadar. Kunci sukses dan bahagia itu adalah Al Qur’an.

Banyak umat muslim yang tidak sadar memiliki buku panduan untuk menuju sukses dan bahagia. Mereka lebih percaya dengan kata-kata manusia, yang biasanya berbentuk motivasi, dari pada firman Tuhannya. Kadang kata-kata motivasi tersebut disampaikan oleh orang kafir (non muslim). Memang benar ucapan mereka mampu mengarahkan menjadi kreatif dan sejahtera, tapi tidak untuk sukses/selamat dan bahagia. Kita ambil contoh, dalam kitab tafsir karangan Sayyid Qutb (Fii Dzilalil Qur’an), beliau dari Mesir, dimana sejak kecil sudah hafal Al Qur’an serta beliau pernah tinggal di Mesir dan Amerika Serikat. Artinya, beliau pernah tinggal di dunia yang berbeda suasana dan tradisinya, berada di sekitar kaum muslimin dan lingkungan kafir.

Beliau berkata, “Hidup di bawah naungan Al Qur’an adalah nikmat. Nikmat yang tidak diketahui kecuali oleh orang yang pernah merasakanya. Nikmat yang mengantarkan seseorang kepada umur yang penuh keberkahan, umur yang bernilai tinggi, dan umur yang bermanfaat. Umur itu mensucikannya, sehingga akhirnya ia meninggal dalam keadaan husnul khotimah, dengan mendapatkan ketenangan di dunia dan keselamatan di akhirat.”
Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” (QS. Al Baqarah: 201).

Dengan nerdoa meminta kebaikan di dunia dan akhirat, maka pada hakikatnya kita mencari kebaikan di dunia, karena kebaikan di dunia ini mencakup kebaikan harta benda kita ataupun pekerjaan kita seperti baik pekerjaan kita, baik mobil kita, rumah kita dan istri pun yang baik.

Di lain ayat yaitu surat Al-Furqan: 74,
Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.”

Jika kita sudah hasanah di dunia dan hasanah di akhirat serta selamat dari api neraka, maka kita perlu membangun prestasi kita di dunia, karena prestasi kita di akhirat ditentukan oleh prestasi di dunia. Perhatikan surat Al-Furqan ayat 74 di atas. Yang kita inginkan di dunia adalah kebaikan pada diri dan menjadi imam bagi orang beriman.

Contoh pada zaman Rasulullah. Mengapa yang mengganti rasul itu Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali radhiyallahu ‘anhum? karena rasul tidak mau melepaskan kepemimpinannya yang sudah menerapkan isi Al Qur’an kecuali pada para sahabat yang sholih dan tetap menerapkan hukum Syariat Islam yang terkandung dalam Al Qur’an.

Buku pedoman sukses dan bahagia terbaik adalah Al-Qur’an. Siapa yang mengatakan Al-Qur’an adalah yang terbaik? Lihat Surat Az Zumar ayat 23,
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Qur’an…”

Ini adalah bukti bahwa buku pedoman yang hebat, satu-satunya buku pedoman yang banyak dihafal hanyalah Al-Qu’ran. Di turunkan langsung oleh Allah melalui malaikat Jibril, tidak ada yang menyamai, tidak dapat dipalsukan, tidak ada revisi karena Al-Qur’an tidak bisa ditiru walau orang-orang cerdas berkumpul, bahkan dibantu jin sekalipun.

Yang dilakukan musuh Allah sekarang ini adalah menjauhkan kita dari Al Qur’an, karena sudah terbukti Al Qur’an itu perkasa. Tidak ada tandingannya. Tujuan kita adalah mendekatkan diri kita pada Al Qur’an. Dengan Al Qur’an inilah kita bisa menjadi ‘khoirul ummatin’, umat yang terbaik.

Lalu kenapa kaum muslimin sekarang mundur? Jawabannya adalah karena kita jauh dari Al Qur’an. Berbeda dengan ulama dahulu yang tidak hanya membaca, namun juga bisa menjelaskan dari ayat satu sampai akhir.

Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka.” (QS. Fussilat: 26).


Kirim Komentar